30 September 2010

Si Merah Penghuni Gudangku

Sebuah kesaksian:
Kamis sore, jam 17.45 WIB di daerah sekitar Cibitung …. Staff gudang sebuah perusahaan multinational sedang bersiap untuk break bagi shift 2 nya. Kebanyakan staff dengan mengendarai handpallet machine nya berjalan mengelilingi rak-rak besi yang tingginya lebih dari 7 meter. Dalam temaram lampu merkuri yang berwarna kuning, satu handpallet dapat membawa 2-5 staff menuju pintu keluar

Jika anda memang benar-benar orang gudang, pasti anda mengenal “seseorang” yang  paling terkenal di gudang anda. Bukan, bukan warehouse supervisornya atau forklift driver, tetapi dia adalah yang “ada tapi tak ada” dan yang “tak ada tapi ada”.

Dikatakan demikian karena memang kenyataannya “beliau” tidak bisa dipanggil menghadap ke manager gudang pada saat diperlukan tetapi terkadang “beliau”nya malah menemui staf gudang didalam waktu yang tidak disangka-sangka. Sayangnya, kemunculan (atau lebih afdol dibilang – penampakannya) sering kali menimbulkan ketakutan pada staff dan hal ini kadang dapat berpengaruh pada kinerja gudang.

Apa benar ? 

Ditengah gudang, seorang staff yang sedang duduk di hand pallet menghadap belakang menanyakan kepada temannya yang sedang mengendarai hand pallet dengan nada polos “Mas, memang di gudang ini ada staff picking ceweq ya?”. Dengan santai temannya menjawab “Digudang hanya cowok. Emang kenapa ?”. Staff yang duduk dibelakang handpallet tadi menjawab dengan menunjukan tangannya keatas rak “Lho, itu yang diatas rak cewek siapa ya ? Lagi duduk menggantungkan kakinya dari atas pallet pakai baju merah ?”. Secara reflek, temannya yang mengendarai handpallet tadi melihat kebelakang dan entah apa yang dilihatnya, dia mempercepat laju handpalletnya untuk menuju pintu keluar. Esoknya, kedua staff gudang tsb tidak masuk karena badannya demam.

Sepenggal cerita diatas tsb adalah kisah nyata yang tidak bisa diingkari keberadaannya dan hampir seluruh staff gudang mempercayainya walaupun sebagian besar mereka belum pernah bertemu atau melihat langsung seperti staff gudang yang duduk di atas handpallet tadi. Namun dampaknya adalah, lokasi dimana “si merah” dilihat akan menjadi tempat yang paling jelek penangannya. Staff jadi takut membersihkan lokasi tsb dan sekitarnya, staff jadi terburu-buru kalau haris picking kelokasi tsb atau staff akan datang bersama-sama untuk mengambil barang yang diminta sehingga secara produktifitas tentunya akan menurun.

Profil si Merah

          Komunitas gudang lebih sering memanggil yang satu ini dengan ciri khas penampakannya. Si Merah karena berpakaian merah, si Jambrong karena kelihatan angker kumis/jenggotnya, si Pincang karena terlihat tertatih-tatih waktu memunculkan dirinya atau  kadang dipanggil si Noni karena konon wajahnya keindo-indoan.

Jika harus dibandingkan, jenis kelaminnya, mayoritas adalah perempuan. Entah kenapa gudang yang penuh dengan ‘pekerjaan otot’ sangat disukai oleh pemunculan mahluk yang berjenis perempuan ini.

Kebanyakan bermuara pada percintaan yang tidak disetujui sehingga si merah bunuh diri atau cinta yang ditolak dan si merah di perkosa atau dibunuh.
Waktu muncul secara umum antara magrib hingga dini hari. Sangat jarang didengar bahwa si Jambrong muncul pas jam sarapan pagi misalnya.

Mengapa Ini Terjadi ?

Lumrah memang, di Indonesia yang beragam kebudayaan ini mengenal jenis budaya tsb dimana kita sebagai manusia memiliki teman yang tak kasat mata. Anda tidak bisa melawannya dengan logika jika suatu saat staff gudang menceritakan hal-hal yang berbau mistis tsb. Sikap yang bijaksana adalah, mendengarkan staff bercerita, tidak menantang untuk melihatnya atau membuatnya seolah-olah staff berbohong dengan cerita tsb.

Gudang (warehouse) kebanyakan masih berada didalam jangkauan ring 3 dan identik dengan tempat/rumah kosong yang tidak dipakai lama dan dari pada mubazir lebih baik dijadikan gudang. Kesan kumuh, jorok, gelap dan angker selalu menambah “wibawa” orang-orang yang bekerja didalamnya. Hanya sedikit perusahaan yang beruntung dan mampu membangun gudangnya di tempat yang bersih, nyaman, asri, terang dan modern.

Malam yang gelap identik dengan saat-saat gudang bekerja. Dimana bagian lain sedang tertidur, maka bagian gudanglah yang bekerja menyiapkan bahan-bahan yang akan dikerjakan keesokan harinya. Jarang sekali ada cerita “seram” yang terjadi saat matahari masih nampak jelas. Kebanyakan cerita-cerita tsb adalah romantika staff yang bekerja di shift 2 atau 3.

Tidak bisa dibuktikan kebenarannya secara logika. Jika anda mendengar cerita si Merah tadi, tidak ada satupun staff yang mampu menggambarkannya bagaimana bentuk dan rupanya secara pasti. Setiap staff memiliki versi yang berbeda dan semakin banyak staff yang mendengar cerita tsb, maka akan semakin hebohlah ceritanya.

Bagaimana Management Harus Bersikap ?

Banyak gudang-gudang yang langsung mengadakan upacara doa dengan mengundang tokoh ulama atau masyarakat sekitar. Doa bersama ini dengan tujuan untuk meminta si Noni tidak mengganggu lagi dan mengijinkan staff bekerja dengan nyaman. Bahkan belakangan ada gudang yang sengaja mengundang si pengusir hantu dari sebuah stasiun TV untuk memastikan bahwa hantunya sudah pergi.

Langkah arif yang telah dijalankan diatas tadi sebaiknya ditindak lanjuti oleh managment dengan cara memastikan kondisi gudang dan sekitarnya menjadi semakin bersih, terang, tidak lembab dan semakin mentaati tata tertib operasionalnya. Kebanyakan orang berprasangkan bahwa kalau ada staff yang jatuh tertiban pallet misalnya, maka langsung dihubungkan bahwa si anu marah karena tidak di selamati, atau kalau barang selalu berkurang pada saat stock take ada yang menduga bahwa si Jambrong lah yang ”ngumpetin”. Padahal kalau dirunut kebenarannya, karena kondisi gudang kita yang kurang bersih dan kurang terang, maka potensial kecelakaan kerja akan semakin tinggi. Begitu juga dengan kesalahan pengambilan barang oleh staff berpeluang salah semakin besar.

Memodifikasi lokasi yang dianggap ”angker” menjadi tempat umum (kantin, loker, tempat istirahat dll) atau tempat tertutup sekalian (misalnya untuk barang-barang yang mahal atau perlu penanganan khusus). Penempatan ini akan memberikan suasana yang berbeda dimana kedepannya staff tidak akan berfikir mengenai cerita lama tau minimal staff tidak melihat langsung lokasi tsb.

Menempatkan barang-barang slow moving dilokasi yang rawan dengan keangkeran. Penempatan ini akan meminimalkan tingkat kunjungan staff kelokasi tsb sehingga pola produktifitas staff tidak akan terganggu secara langsung.

Memindahkan staff yang terlibat langsung dengan penampakan ke lokasi lainnya. Biasanya staff akan trauma atau malahan akan bercerita hiperbolis mengenai kisahnya.

Memindahkan gudang lama ke lokasi gudang baru. Tentu ini lain cerita jika gudangnya masih lama masa sewanya atau gudang milik sendiri yang tidak mungkin dipindahkan (WY).



free counters